Ilustrasi Ki Onggososro
1. Musim kemarau yang panas sekali mengharuskan hampir semua kehidupan di daerah ini terhenti sejenak. Sesekali terdengar kicauan burung dipuncak pohon bersahut – sahutan sesama marganya.
Kadang angin bertiup sepoi – sepoi
menambah gambaran indah alam mayapada untuk dinikmati oleh semua makhluk
berbagai jenis. Ditengah lebatnya hutan yang masih perawan dan hampir tidak ada
manusia.berdiri seorang asing yang misterius. Dilihat dari cara berbusana dan
mata yang tajam seperti mata burung elang, postur tubuh yang kekar dapat
diperkirakan dia bukan orang asli daerah ini dan yang jelas dia juga bukan
orang sembarangan. Memandang ketajaman mata serta kumis tebal yang melintang
diatas bibir yang mahal senyum menambah kewibawaannya.
Entah kapan orang ini berada di dalam
hutan sendirian yang ditumbuhi pohon – pohon jati raksasa yang daunnya mampu
menahan terobosan sinar matahari mencapai permukaan tanah. Walau musim kemarau,
orang tidak akan sulit menemukan air, sebab ekologi alamnya masih utuh dan
berdiskusi sesuai kehendak alam yang belum ada campur tangan manusia. Disana
sini masih terdengar air mengalir gemericik diparit – parit menuju suatu
hamparan berbentuk seperti kolam, luar biasa.
Dengan tersedianya air diberbagai
tempat, udara musim kering yang panas berubah menjadi sejuk dan segar, semua
makhluk bersuka ria. Seandainya manusia jaman sekarang menydari betapa
berjasanya alam yang diciptakan oleh Tuhan ini terhadap kepentingan manusia dan
semua makhluk yang ada, pasti tidak demikian parah menderita menghadapi
keganasan alam yang telah diusik secara semena – mena oleh manusia. Hukum sebab
akibat yang berlaku di alam nyata ini bukan untuk dirusak , dijarah atau di
manfaatkan secara liar dan tidak menurut aturan hidup, maka alam akan membalas
tingkah laku kita lebih kejam tanpa pandang bulu, tapi dilestarikan.
Kalau seandainya tokoh ini memiliki jiwa
aji – aji mumpung, maka anak cucu yang kini mendiami wilayah Randublatung ini,
tokoh ini tidak bakalan mendapat sebutan tokoh yang disegani.
Dia sosok orang sakti mandraguna yang
menamakan diri “ ONGGOSOSRO “, dia tidak butuh cara hidup kebendaan,
keduniawian seperti manusia jaman sekarang, tapi mengutamakan ketentraman hati,
mendekatkan diri pada sang pencipta alam dengan cita – cita membaktikan diri
pada sesama dimana perlu ada niat yang bulat mengakhiri langkah yang lalu dan
berdiam di suatu tempat serta meninggalkan kebiasaan mengembara terus menerus.
Dengan perasaan mantap dan dilandasi niat
dan tekad membaja, semalam suntuk dia habiskan waktunya untuk merenungi
nasibnya, sambil merencanakan langkah luhur yang menyangkut masa depan dan
harkat orang banyak dimasa mendatang.
Lelaki itu bertekad menjadikan daerah
baru yang kini dia tempati sebagai daerah perkampungan yang pantas di huni oleh
sebuah masyarakat manusia dengan segala norma-normanya. Di dalam hati dia
bertanya-tanya, apakah benar daerah seluas ini belum ada sosok lain yang dapat
di jadikan teman senasib sependeritaan yang dapat di ajak bertukar pikiran.
Berhari-hari ia mulai membersihkan hutan
di sekitarnya, sambil membuat tempat berteduh serta bercocok tanam seadanya.
Niat menemukan manusia lain makin hari makin di rasakan sebagai kebutuhan yang
mendesak, karena dia berpendapat bahwa usahanya akan sia-sia saja bila di
kerjakan sendirian.
Pekerjaan ini bukanlah hal yang
ringan,tetapi banyak membutuhkan tenaga dan sumbangan pikiran dari manusia lain
akan membutuhkan waktu yang cukup lama,agar layak di huni.
Pada suatu hari dikala matahari baru
terbit,timbullah sebuah gagasan yang sangat cemerlang dalam pikiranya untuk
memberikan nama yang tepat bagi daerah ini. Masih tegak berdiri,di arahkan
pandangan matanya ke segala penjuru, dan di bagian timur laut tampak sebuah
pohon tinggi yang belum pernah di
lihatnya sebelumnya, menjulang ke angkasa melebihi tingginya semua pohon di
sekitarnya.
Di dekatinya pohon tersebut, ternyata
bukan pohon jati, tetapi pohon randu raksasa yang dipenuhi dengan benjolan (
Randu Budhug ). Di
tepuk-tepuknya pohon randu satu-satunya di dalam hutan jati itu, sambil berujar
: “kelak apabila daerah ini menjadi ramai dan dihuni oleh manusia, maka
mulai saat ini ku namakan Desa “RANDU”.
( Lokasinya sekarang di pekarangan
sekolahan PSM bagian blakang sebelah barat daya komplek sekolahan PSM
Randublatung, dan disekitar lokasi Randu tersebut kurang lebih tahun 1957 diketemukan
sebalah keris kecil oleh Bpak R. Darminto Atmodjo keris tersebut ada yang
menamakan “ Keris berdhapur peso Pangot dan konon katanya benda tersebut
merupakan salah satu benda pusaka Milik Kanjeng Ratu Kalinyamat yang sekarang
masih terpelihara dengan baik oleh Putra ke tiga bpk R. Darminto Atmodjo )
Sambil melangkahkan kakinya ketempat berteduh,dalam
hatinya masih ada perasaan yang belum mantap terhadap apa yang baru saja
dilakukan. Dia merasa nama tersebut kuranglah sempurna, kalau hanya nama Randu
saja. Belum juga langkah mencapai tempat berteduh, dia berbalik dan mulai
melangkahkan kakinya lurus kearah timur. Ditelusurinya kawasan hutan tersebut
sambil tak henti-hentinya berpikir keras guna memecahkan misteri ketidak
mantapan hatinya.
Tanpa terasa dia telah sampai ditepi
sebuah sendang (semacam sumur goak), dimana udara sekitarnya terasa sejuk ditingkah
oleh nyanyian burung – burung kecil yang terbang kemari dari satu dahan ke dahan
yang lain
Air sendang yang jernih dan bersih,
mengundang selera Onggososro untuk mencuci muka. Selesai mencuci muka, alam
sekitarnya terasa terang benderang dan secara nalurilah matanya tertumbuk pada
sebatang kayu keropos yang tergeletak di tanah, dengan banyak lubang –lubang
bekas dikerat semacam ulat yang bernama engkuk, dan lasim disebut belatung.
Pada waktu bersamaan, ratusan belatung
keluar dari liangnya dan secara serempak membuat lubang baru dibagian batang
yang belum dikerat.
Dengan membentangkan kedua kakinya, tangan
kiri berkacak pinggang, di acungkan tangan kanannya tinggi – tinggi sambil
berujar membahana : “ Kini purna sudah ganjalan dalam hatiku dan sejak saat
ini, di saat sang hyang Bagaskara memancarkan sinar yang terang benderang mulai
saat ini pula daerah ini kuberi nama RANDUBLATUNG”.
(Lokasi sendang diseberang jalan depan
Kantor Polsek Randublatung agak masuk ke dalam di komplek Yayasa Ar Rohmah ).
Sang waktu terus berjalan, hari demi
hari, jadi bulan, berubah menjadi tahun yang berkepanjangan. Kini mulai ada
satu dua orang tampak berdatangan, entah mereka itu pengembara, penjahat yang
melarikan diri sebagai buron, atau orang yang mengejar buruaan binatang liar
sampai jauh masuk hutan, tapi yang jelas kedatangan mereka menambah semaraknya
daerah baru sehingga terasa hidup, dan ki Onggososro tidak kesepian lagi.
Semakin hari banyak pendatang baru yang kebanyakan mengadu untung mencari
nafkah ditanah yang subur.
Diantara pendatang baru tadi ada
sepasang suami istri keturunan tionghua (Cina), yang juga mencoba mencari
keberuntungan.
Ternyata pasangan suami istri cina ini
bukanlah orang sembarangan tapi orang berbudi luhur serta mempunyai kesaktian
yang mumpuni. Pendatang baru tersebut bernama MBO LIANG, yang dengan mata batin
mampu mengetahui orang terhormat dan disegani semua orang daerah ini sebagai
sesepuh dan cikal bakalnya Randublatung.
Secara tepat MBO LIANG menebak
keberadaan tokoh KI ONGGOSOSRO , sebagai tokoh yang cocok dijadikan sahabat sejati.
Perkenalan dan persahabatan kedua tokoh
ini merupakan kunci penentu perkembangan daerah Randublatung.
Walau berlainan bangsa dan ras, keduanya
merupakan sahabat yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Pertukaran dan
pengalaman dari masing – masing tokoh ini berhasil memicu perkembangan sosial ,
ekonomi dan budaya. Keberadaan mereka seperti saudara sekandung, karena kedua –
duanya memiliki sifat arif bijaksana, dan pantas menjadi tetua dan panutan
setiap orang yang menghuni daerah baru ini. Namun nasib seseorang tidak bisa
diterka, hanya Tuhan saja yang punya hak menentukan nasib setiap orang.
Pada suatu senja, kedua suami istri itu
bermaksud pergi mandi di sebuah sendang, dan keduanya raib tanpa tentu
rimbanya. Mendegar sahabatnya lenyap tak berbekas, tentu saja hati Onggososro
merasa sedih, dan sebagai penghormatan bagi seorang sahabat yang selama ini
menjadi curahan hati, maka dibuatlah semacam makam, punden, atau cungkup
dibagian selatan Desa Randublatung.
Perlu diketahui bahwa masa itu, yang
disebut Randublatung tidak sebatas desa Randublatung seperti sekarang ini, tapi
meliputi sebuah wilayah luas yang pada saatnya kelak menjadi beberapa desa yang
diproklamasikan oleh pada masa berikutnya.
Setelah berpuluh tahun, Tokoh Onggososro
meninggal dunia, dikebumikan sebelah selatan desa Randublatung, yang terkenal
sampai sekarag sebagai pemakaman Onggososro, letaknya dari cungkup Mbo Liang
kearah timur. Sebuah makam umum yang cukup luas diperkirakan keberadaan tokoh
ini sekitar pertengahan jaman majapahit, dan kemungkinan besar beliau masih
kerabat Kerajaan Majapahit yang berpetualang sampai ke daerah Randublatung.
Oleh :
Soedarsono 2000-01-01
Ditulis Oleh : KRAT. Priyohadinagoro
Sumber : Cerita Tutur

Tidak ada komentar:
Posting Komentar