UNDUH GRATIS KITAB WULANGREH
Halaman
Tampilkan postingan dengan label Membangun Surga Dalam Rumah Tangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Membangun Surga Dalam Rumah Tangga. Tampilkan semua postingan
Selasa, 19 Juli 2022
Sabtu, 24 Desember 2016
10 PERILAKU ISTRI DURHAKA KEPADA SUAMI.
10 Perilaku Istri Durhaka Kepada Suami
Di bawah ini adalah 10 perilaku yang harus dihindari oleh para istri, agar tidak menjadi golongan istri durhaka kepada suami, diantaranya adalah:
Menuntut keluarga yang ideal dan sempurna
Sebelum menikah, seorang wanita membayangkan pernikahan yang begitu indah, kehidupan yang sangat romantis sebagaimana ia baca dalam novel maupun ia saksikan dalam sinetron-sinetron. Ia memiliki gambaran yang sangat ideal dari sebuah pernikahan. Kelelahan yang sangat, cape, masalah keuangan, dan segudang problematika di dalam sebuah keluarga luput dari gambaran nya.
Ia hanya membayangkan yang indah-indah dan enak-enak dalam sebuah perkawinan.
Akhirnya, ketika ia harus menghadapi semua itu, ia tidak siap. Ia kurang bisa menerima keadaan, hal ini terjadi berlarut-larut, ia selalu saja menuntut suaminya agar keluarga yang mereka bina sesuai dengan gambaran ideal yang senantiasa ia impikan sejak muda.
Seorang wanita yang hendak menikah, alangkah baiknya jika ia melihat lembaga perkawinan dengan pemahaman yang utuh, tidak sepotong-potong, romantika keluarga beserta problematika yang ada di dalamnya.
2. Nusyus (tidak taat kepada suami)
Nusyus adalah sikap membangkang, tidak patuh dan tidak taat kepada suami. Wanita yang melakukan nusyus adalah wanita yang melawan suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya, dan tidak ridha pada kedudukan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tetapkan untuknya.
Nusyus memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah:
• Menolak ajakan suami ketika mengajaknya ke tempat tidur, dengan terang-terangan maupun secara samar.
• Mengkhianati suami, misalnya dengan menjalin hubungan gelap dengan pria lain.
• Memasukkan seseorang yang tidak disenangi suami ke dalam rumah
• Lalai dalam melayani suami
• Mubazir dan menghambur-hamburkan uang pada yang bukan tempatnya
• Menyakiti suami dengan tutur kata yang buruk, mencela, dan mengejeknya
• Keluar rumah tanpa izin suami
• Menyebarkan dan mencela rahasia-rahasia suami.
Seorang istri shalihah akan senantiasa menempatkan ketaatan kepada suami di atas segala-galanya. Tentu saja bukan ketaatan dalam kedurhakaan kepada Allah, karena tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia akan taat kapan pun, dalam situasi apapun, senang maupun susah, lapang maupun sempit, suka ataupun duka. Ketaatan istri seperti ini sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan cinta dan memelihara kesetiaan suami.
3. Tidak menyukai keluarga suami
Terkadang seorang istri menginginkan agar seluruh perhatian dan kasih sayang sang suami hanya tercurah pada dirinya. Tak boleh sedikit pun waktu dan perhatian diberikan kepada selainnya. Termasuk juga kepada orang tua suami. Padahal, di satu sisi, suami harus berbakti dan memuliakan orang tuanya, terlebih ibunya.
Salah satu bentuknya adalah cemburu terhadap ibu mertuanya. Ia menganggap ibu mertua sebagai pesaing utama dalam mendapatkan cinta, perhatian, dan kasih sayang suami. Terkadang, sebagian istri berani menghina dan melecehkan orang tua suami, bahkan ia tak jarang berusaha merayu suami untuk berbuat durhaka kepada orang tuanya. Terkadang istri sengaja mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang tua dan keluarga suami, atau membesar-besarkan suatu masalah, bahkan tak segan untuk memfitnah keluarga suami.
Ada juga seorang istri yang menuntut suaminya agar lebih menyukai keluarga istri, ia berusaha menjauhkan suami dari keluarganya dengan berbagai cara.
Ikatan pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan dalam sebuah lembaga pernikahan, namun juga ‘pernikahan antar keluarga’. Kedua orang tua suami adalah orang tua istri, keluarga suami adalah keluarga istri, demikian sebaliknya. Menjalin hubungan baik dengan keluarga suami merupakan salah satu keharmonisan keluarga. Suami akan merasa tenang dan bahagia jika istrinya mampu memposisikan dirinya dalam kelurga suami. Hal ini akan menambah cinta dan kasih sayang suami.
4. Tidak menjaga penampilan
Terkadang, seorang istri berhias, berdandan, dan mengenakan pakaian yang indah hanya ketika ia keluar rumah, ketika hendak bepergian, menghadiri undangan, ke kantor, mengunjungi saudara maupun teman-temannya, pergi ke tempat perbelanjaan, atau ketika ada acara lainnya di luar rumah. Keadaan ini sungguh berbalik ketika ia di depan suaminya. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang kotor, cukup hanya mengenakan pakaian seadanya: terkadang kotor, lusuh, dan berbau, rambutnya kusut masai, ia juga hanya mencukupkan dengan aroma dapur yang menyengat.
Jika keadaan ini terus menerus dipelihara oleh istri, jangan heran jika suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar ketimbang di rumah. Semestinya, berhiasnya dia lebih ditujukan kepada suami Janganlah keindahan yang telah dianugerahkan oleh Allah diberikan kepada orang lain, padahal suami nya di rumah lebih berhak untuk itu.
5. Kurang berterima kasih
Tidak jarang, seorang suami tidak mampu memenuhi keinginan sang istri. Apa yang diberikan suami jauh dari apa yang ia harapkan. Ia tidak puas dengan apa yang diberikan suami, meskipun suaminya sudah berusaha secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan keinginan-keinginan istrinya.
Istri kurang bahkan tidak memiliki rasa terima kasih kepada suaminya. Ia tidak bersyukur atas karunia Allah yang diberikan kepadanya lewat suaminya. Ia senantiasa merasa sempit dan kekurangan. Sifat qona’ah dan ridho terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya sangat jauh dari dirinya.
Seorang istri yang shalihah tentunya mampu memahami keterbatasan kemampuan suami. Ia tidak akan membebani suami dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan suami. Ia akan berterima kasih dan mensyukuri apa yang telah diberikan suami. Ia bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya, dengan bersyukur, insya Allah, nikmat Allah akan bertambah.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”
6. Mengingkari kebaikan suami
“Wanita merupakan mayoritas penduduk neraka.” Demikian disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah shalat gerhana ketika terjadi gerhana matahari.
Ajaib!! wanita sangat dimuliakan di mata Islam, bahkan seorang ibu memperoleh hak untuk dihormati tiga kali lebih besar ketimbang ayah. Sosok yang dimuliakan, namun malah menjadi penghuni mayoritas neraka. Bagaimana ini terjadi?
“Karena kekufuran mereka,” jawab Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa Sallam ketika para sabahat bertanya mengapa hal itu bisa terjadi. Apakah mereka mengingkari Allah?
Bukan, mereka tidak mengingkari Allah, tapi mereka mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat suaminya. Andaikata seorang suami berbuat kebaikan sepanjang masa, kemudian seorang istri melihat sesuatu yang tidak disenanginya dari seorang suami, maka si istri akan mengatakan bahwa ia tidak melihat kebaikan sedikitpun dari suaminya. Demikian penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari (5197).
Mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan suami!!
Inilah penyebab banyaknya kaum wanita berada di dalam neraka. Mari kita lihat diri setiap kita, kita saling introspeksi, apa dan bagaimana yang telah kita lakukan kepada suami-suami kita?
Jika kita terbebas dari yang demikian, alhamdulillah. Itulah yang kita harapkan. Berita gembira untukmu wahai saudariku.
Namun jika tidak, kita (sering) mengingkari suami, mengingkari kebaikan-kebaikannya, maka berhati-hatilah dengan apa yang telah disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bertobat, satu-satunya pilihan utuk terhindar dari pedihnya siksa neraka. Selama matahari belum terbit dari barat, atau nafas telah ada di kerongkongan, masih ada waktu untuk bertobat. Tapi mengapa mesti nanti? Mengapa mesti menunggu sakaratul maut?
Janganlah engkau katakan besok dan besok wahai saudariku; kejarlah ajalmu, bukankah engkau tidak tahu kapan engkau akan menemui Robb mu?
“Tidaklah seorang isteri yang menyakiti suaminya di dunia, melainkan isterinya (di akhirat kelak): bidadari yang menjadi pasangan suaminya (berkata): “Jangan engkau menyakitinya, kelak kamu dimurkai Allah, seorang suami begimu hanyalah seorang tamu yang bisa segera berpisah dengan kamu menuju kami.” (HR. At Tirmidzi, hasan)
Wahai saudariku, mari kita lihat, apa yang telah kita lakukan selama ini , jangan pernah bosan dan henti untuk introspeksi diri, jangan sampai apa yang kita lakukan tanpa kita sadari membawa kita kepada neraka, yang kedahsyatannya tentu sudah Engkau ketahui.
Jika suatu saat, muncul sesuatu yang tidak kita sukai dari suami; janganlah kita mengingkari dan melupakan semua kebaikan yang telah suami kita lakukan.
“Maka lihatlah kedudukanmu di sisinya. Sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR.Ahmad)
7. Mengungkit-ungkit kebaikan
Setiap orang tentunya memiliki kebaikan, tak terkecuali seorang istri. Yang jadi masalah adalah jika seorang istri menyebut kebaikan-kebaikannya di depan suami dalam rangka mengungkit-ungkit kebaikannya semata.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” [Al Baqarah: 264]
Abu Dzar radhiyallahu’Anhu meriwayatkan, bahwasanya Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada tiga kelompok manusia dimana Allah tidak akan berbicara dan tak akan memandang mereka pada hari kiamat. Dia tidak mensucikan mereka dan untuk mereka adzab yang pedih.”
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya sebanyak tiga kali.” Lalu Abu Dzar bertanya, “Siapakah mereka yang rugi itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang menjulurkan kain sarungnya ke bawah mata kaki (isbal), orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang suka bersumpah palsu ketika menjual. ” [HR. Muslim]
8. Sibuk di luar rumah
Seorang istri terkadang memiliki banyak kesibukan di luar rumah. Kesibukan ini tidak ada salahnya, asalkan mendapat izin suami dan tidak sampai mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya.
Jangan sampai aktivitas tersebut melalaikan tanggung jawab nya sebagai seorang istri. Jangan sampai amanah yang sudah dipikulnya terabaikan.
Ketika suami pulang dari mencari nafkah, ia mendapati rumah belum beres, cucian masih menumpuk, hidangan belum siap, anak-anak belum mandi, dan lain sebagainya. Jika hni terjadi terus menerus, bisa jadi suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar atau di kantor.
9. Cemburu buta
Cemburu merupakan tabiat wanita, ia merupakan suatu ekspresi cinta. Dalam batas-batas tertentu, dapat dikatakan wajar bila seorang istri merasa cemburu dan memendam rasa curiga kepada suami yang jarang berada di rumah. Namun jika rasa cemburu ini berlebihan, melampaui batas, tidak mendasar, dan hanya berasal dari praduga; maka rasa cemburu ini dapat berubah menjadi cemburu yang tercela.
Cemburu yang disyariatkan adalah cemburunya istri terhadap suami karena kemaksiatan yang dilakukannya, misalnya: berzina, mengurangi hak-hak nya, menzhaliminya, atau lebih mendahulukan istri lain ketimbang dirinya. Jika terdapat tanda-tanda yang membenarkan hal ini, maka ini adalah cemburu yang terpuji. Jika hanya dugaan belaka tanpa fakta dan bukti, maka ini adalah cemburu yang tercela.
Jika kecurigaan istri berlebihan, tidak berdasar pada fakta dan bukti, cemburu buta, hal ini tentunya akan mengundang kekesalan dan kejengkelan suami. Ia tidak akan pernah merasa nyaman ketika ada di rumah. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, kejengkelannya akan dilampiaskan dengan cara melakukan apa yang disangkakan istri kepada dirinya.
10. Kurang menjaga perasaan suami
Kepekaan suami maupun istri terhadap perasaan pasangannya sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya konflik, kesalahpahaman, dan ketersinggungan. Seorang istri hendaknya senantiasa berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatannya agar tidak menyakiti perasaan suami, ia mampu menjaga lisannya dari kebiasaan mencaci, berkata keras, dan mengkritik dengan cara memojokkan. Istri selalu berusaha untuk menampakkan wajah yang ramah, menyenangkan, tidak bermuka masam, dan menyejukkan ketika dipandang suaminya.
Demikian beberapa perbuatan yang harus dihindari oleh para istri, yang sudah berjanji menerima suaminya dihadapan Allah SWT ketika didepan penghulu, untuk bisa menerima apa adanya keadaan suaminya. Semoga dengan membaca artikel ini kita dapat menyadarinya betapa perbuatan-perbuatan di atas sangat rusak sekali, dengan menghindari perbuatan-perbuatan tersebut, maka akan menimbulkan akibat keluarga yang Sakinah, Mawadah dan Warohmah. Bisa berkumpul di SurgaNya Allah bersama suami. Menjadi suami istri sampai Surga.
Amiin Yaa Robbal’alamiin…
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy- Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)
Di bawah ini adalah 10 perilaku yang harus dihindari oleh para istri, agar tidak menjadi golongan istri durhaka kepada suami, diantaranya adalah:
Menuntut keluarga yang ideal dan sempurna
Sebelum menikah, seorang wanita membayangkan pernikahan yang begitu indah, kehidupan yang sangat romantis sebagaimana ia baca dalam novel maupun ia saksikan dalam sinetron-sinetron. Ia memiliki gambaran yang sangat ideal dari sebuah pernikahan. Kelelahan yang sangat, cape, masalah keuangan, dan segudang problematika di dalam sebuah keluarga luput dari gambaran nya.
Ia hanya membayangkan yang indah-indah dan enak-enak dalam sebuah perkawinan.
Akhirnya, ketika ia harus menghadapi semua itu, ia tidak siap. Ia kurang bisa menerima keadaan, hal ini terjadi berlarut-larut, ia selalu saja menuntut suaminya agar keluarga yang mereka bina sesuai dengan gambaran ideal yang senantiasa ia impikan sejak muda.
Seorang wanita yang hendak menikah, alangkah baiknya jika ia melihat lembaga perkawinan dengan pemahaman yang utuh, tidak sepotong-potong, romantika keluarga beserta problematika yang ada di dalamnya.
2. Nusyus (tidak taat kepada suami)
Nusyus adalah sikap membangkang, tidak patuh dan tidak taat kepada suami. Wanita yang melakukan nusyus adalah wanita yang melawan suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya, dan tidak ridha pada kedudukan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tetapkan untuknya.
Nusyus memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah:
• Menolak ajakan suami ketika mengajaknya ke tempat tidur, dengan terang-terangan maupun secara samar.
• Mengkhianati suami, misalnya dengan menjalin hubungan gelap dengan pria lain.
• Memasukkan seseorang yang tidak disenangi suami ke dalam rumah
• Lalai dalam melayani suami
• Mubazir dan menghambur-hamburkan uang pada yang bukan tempatnya
• Menyakiti suami dengan tutur kata yang buruk, mencela, dan mengejeknya
• Keluar rumah tanpa izin suami
• Menyebarkan dan mencela rahasia-rahasia suami.
Seorang istri shalihah akan senantiasa menempatkan ketaatan kepada suami di atas segala-galanya. Tentu saja bukan ketaatan dalam kedurhakaan kepada Allah, karena tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia akan taat kapan pun, dalam situasi apapun, senang maupun susah, lapang maupun sempit, suka ataupun duka. Ketaatan istri seperti ini sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan cinta dan memelihara kesetiaan suami.
3. Tidak menyukai keluarga suami
Terkadang seorang istri menginginkan agar seluruh perhatian dan kasih sayang sang suami hanya tercurah pada dirinya. Tak boleh sedikit pun waktu dan perhatian diberikan kepada selainnya. Termasuk juga kepada orang tua suami. Padahal, di satu sisi, suami harus berbakti dan memuliakan orang tuanya, terlebih ibunya.
Salah satu bentuknya adalah cemburu terhadap ibu mertuanya. Ia menganggap ibu mertua sebagai pesaing utama dalam mendapatkan cinta, perhatian, dan kasih sayang suami. Terkadang, sebagian istri berani menghina dan melecehkan orang tua suami, bahkan ia tak jarang berusaha merayu suami untuk berbuat durhaka kepada orang tuanya. Terkadang istri sengaja mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang tua dan keluarga suami, atau membesar-besarkan suatu masalah, bahkan tak segan untuk memfitnah keluarga suami.
Ada juga seorang istri yang menuntut suaminya agar lebih menyukai keluarga istri, ia berusaha menjauhkan suami dari keluarganya dengan berbagai cara.
Ikatan pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan dalam sebuah lembaga pernikahan, namun juga ‘pernikahan antar keluarga’. Kedua orang tua suami adalah orang tua istri, keluarga suami adalah keluarga istri, demikian sebaliknya. Menjalin hubungan baik dengan keluarga suami merupakan salah satu keharmonisan keluarga. Suami akan merasa tenang dan bahagia jika istrinya mampu memposisikan dirinya dalam kelurga suami. Hal ini akan menambah cinta dan kasih sayang suami.
4. Tidak menjaga penampilan
Terkadang, seorang istri berhias, berdandan, dan mengenakan pakaian yang indah hanya ketika ia keluar rumah, ketika hendak bepergian, menghadiri undangan, ke kantor, mengunjungi saudara maupun teman-temannya, pergi ke tempat perbelanjaan, atau ketika ada acara lainnya di luar rumah. Keadaan ini sungguh berbalik ketika ia di depan suaminya. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang kotor, cukup hanya mengenakan pakaian seadanya: terkadang kotor, lusuh, dan berbau, rambutnya kusut masai, ia juga hanya mencukupkan dengan aroma dapur yang menyengat.
Jika keadaan ini terus menerus dipelihara oleh istri, jangan heran jika suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar ketimbang di rumah. Semestinya, berhiasnya dia lebih ditujukan kepada suami Janganlah keindahan yang telah dianugerahkan oleh Allah diberikan kepada orang lain, padahal suami nya di rumah lebih berhak untuk itu.
5. Kurang berterima kasih
Tidak jarang, seorang suami tidak mampu memenuhi keinginan sang istri. Apa yang diberikan suami jauh dari apa yang ia harapkan. Ia tidak puas dengan apa yang diberikan suami, meskipun suaminya sudah berusaha secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan keinginan-keinginan istrinya.
Istri kurang bahkan tidak memiliki rasa terima kasih kepada suaminya. Ia tidak bersyukur atas karunia Allah yang diberikan kepadanya lewat suaminya. Ia senantiasa merasa sempit dan kekurangan. Sifat qona’ah dan ridho terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya sangat jauh dari dirinya.
Seorang istri yang shalihah tentunya mampu memahami keterbatasan kemampuan suami. Ia tidak akan membebani suami dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan suami. Ia akan berterima kasih dan mensyukuri apa yang telah diberikan suami. Ia bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya, dengan bersyukur, insya Allah, nikmat Allah akan bertambah.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”
6. Mengingkari kebaikan suami
“Wanita merupakan mayoritas penduduk neraka.” Demikian disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah shalat gerhana ketika terjadi gerhana matahari.
Ajaib!! wanita sangat dimuliakan di mata Islam, bahkan seorang ibu memperoleh hak untuk dihormati tiga kali lebih besar ketimbang ayah. Sosok yang dimuliakan, namun malah menjadi penghuni mayoritas neraka. Bagaimana ini terjadi?
“Karena kekufuran mereka,” jawab Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa Sallam ketika para sabahat bertanya mengapa hal itu bisa terjadi. Apakah mereka mengingkari Allah?
Bukan, mereka tidak mengingkari Allah, tapi mereka mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat suaminya. Andaikata seorang suami berbuat kebaikan sepanjang masa, kemudian seorang istri melihat sesuatu yang tidak disenanginya dari seorang suami, maka si istri akan mengatakan bahwa ia tidak melihat kebaikan sedikitpun dari suaminya. Demikian penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari (5197).
Mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan suami!!
Inilah penyebab banyaknya kaum wanita berada di dalam neraka. Mari kita lihat diri setiap kita, kita saling introspeksi, apa dan bagaimana yang telah kita lakukan kepada suami-suami kita?
Jika kita terbebas dari yang demikian, alhamdulillah. Itulah yang kita harapkan. Berita gembira untukmu wahai saudariku.
Namun jika tidak, kita (sering) mengingkari suami, mengingkari kebaikan-kebaikannya, maka berhati-hatilah dengan apa yang telah disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bertobat, satu-satunya pilihan utuk terhindar dari pedihnya siksa neraka. Selama matahari belum terbit dari barat, atau nafas telah ada di kerongkongan, masih ada waktu untuk bertobat. Tapi mengapa mesti nanti? Mengapa mesti menunggu sakaratul maut?
Janganlah engkau katakan besok dan besok wahai saudariku; kejarlah ajalmu, bukankah engkau tidak tahu kapan engkau akan menemui Robb mu?
“Tidaklah seorang isteri yang menyakiti suaminya di dunia, melainkan isterinya (di akhirat kelak): bidadari yang menjadi pasangan suaminya (berkata): “Jangan engkau menyakitinya, kelak kamu dimurkai Allah, seorang suami begimu hanyalah seorang tamu yang bisa segera berpisah dengan kamu menuju kami.” (HR. At Tirmidzi, hasan)
Wahai saudariku, mari kita lihat, apa yang telah kita lakukan selama ini , jangan pernah bosan dan henti untuk introspeksi diri, jangan sampai apa yang kita lakukan tanpa kita sadari membawa kita kepada neraka, yang kedahsyatannya tentu sudah Engkau ketahui.
Jika suatu saat, muncul sesuatu yang tidak kita sukai dari suami; janganlah kita mengingkari dan melupakan semua kebaikan yang telah suami kita lakukan.
“Maka lihatlah kedudukanmu di sisinya. Sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR.Ahmad)
7. Mengungkit-ungkit kebaikan
Setiap orang tentunya memiliki kebaikan, tak terkecuali seorang istri. Yang jadi masalah adalah jika seorang istri menyebut kebaikan-kebaikannya di depan suami dalam rangka mengungkit-ungkit kebaikannya semata.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” [Al Baqarah: 264]
Abu Dzar radhiyallahu’Anhu meriwayatkan, bahwasanya Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada tiga kelompok manusia dimana Allah tidak akan berbicara dan tak akan memandang mereka pada hari kiamat. Dia tidak mensucikan mereka dan untuk mereka adzab yang pedih.”
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya sebanyak tiga kali.” Lalu Abu Dzar bertanya, “Siapakah mereka yang rugi itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang menjulurkan kain sarungnya ke bawah mata kaki (isbal), orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang suka bersumpah palsu ketika menjual. ” [HR. Muslim]
8. Sibuk di luar rumah
Seorang istri terkadang memiliki banyak kesibukan di luar rumah. Kesibukan ini tidak ada salahnya, asalkan mendapat izin suami dan tidak sampai mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya.
Jangan sampai aktivitas tersebut melalaikan tanggung jawab nya sebagai seorang istri. Jangan sampai amanah yang sudah dipikulnya terabaikan.
Ketika suami pulang dari mencari nafkah, ia mendapati rumah belum beres, cucian masih menumpuk, hidangan belum siap, anak-anak belum mandi, dan lain sebagainya. Jika hni terjadi terus menerus, bisa jadi suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar atau di kantor.
9. Cemburu buta
Cemburu merupakan tabiat wanita, ia merupakan suatu ekspresi cinta. Dalam batas-batas tertentu, dapat dikatakan wajar bila seorang istri merasa cemburu dan memendam rasa curiga kepada suami yang jarang berada di rumah. Namun jika rasa cemburu ini berlebihan, melampaui batas, tidak mendasar, dan hanya berasal dari praduga; maka rasa cemburu ini dapat berubah menjadi cemburu yang tercela.
Cemburu yang disyariatkan adalah cemburunya istri terhadap suami karena kemaksiatan yang dilakukannya, misalnya: berzina, mengurangi hak-hak nya, menzhaliminya, atau lebih mendahulukan istri lain ketimbang dirinya. Jika terdapat tanda-tanda yang membenarkan hal ini, maka ini adalah cemburu yang terpuji. Jika hanya dugaan belaka tanpa fakta dan bukti, maka ini adalah cemburu yang tercela.
Jika kecurigaan istri berlebihan, tidak berdasar pada fakta dan bukti, cemburu buta, hal ini tentunya akan mengundang kekesalan dan kejengkelan suami. Ia tidak akan pernah merasa nyaman ketika ada di rumah. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, kejengkelannya akan dilampiaskan dengan cara melakukan apa yang disangkakan istri kepada dirinya.
10. Kurang menjaga perasaan suami
Kepekaan suami maupun istri terhadap perasaan pasangannya sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya konflik, kesalahpahaman, dan ketersinggungan. Seorang istri hendaknya senantiasa berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatannya agar tidak menyakiti perasaan suami, ia mampu menjaga lisannya dari kebiasaan mencaci, berkata keras, dan mengkritik dengan cara memojokkan. Istri selalu berusaha untuk menampakkan wajah yang ramah, menyenangkan, tidak bermuka masam, dan menyejukkan ketika dipandang suaminya.
Demikian beberapa perbuatan yang harus dihindari oleh para istri, yang sudah berjanji menerima suaminya dihadapan Allah SWT ketika didepan penghulu, untuk bisa menerima apa adanya keadaan suaminya. Semoga dengan membaca artikel ini kita dapat menyadarinya betapa perbuatan-perbuatan di atas sangat rusak sekali, dengan menghindari perbuatan-perbuatan tersebut, maka akan menimbulkan akibat keluarga yang Sakinah, Mawadah dan Warohmah. Bisa berkumpul di SurgaNya Allah bersama suami. Menjadi suami istri sampai Surga.
Amiin Yaa Robbal’alamiin…
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy- Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)
KENDALA PERNIKAHAN
KENDALA PERNIKAHAN
Pembahasan kita kali ini berkisar pada sejumlah kendala yang menghalangi terjadinya Pernikahan. Adapaun kendala-kendala dimaksud antara lain sebagi berikut :
PEMILIHAN SERBA BERLEBIHAN
PENGELUARAN YANG BUKAN PADA TEMPATNYA.
MAHAR YANG MEMBERATKAN
WALIMAH ( RESEPSI ) TANPA PERHITUNGAN.
PERLENGKAPAN YANG MEMBEBANI.
RUMAH TINGGAL
SALING CURIGA DAN BUDAYA PAMER DIRI.
KEBAKHILAN.
Kendala-kendala tersebut ibarat barikade pasir yang biasa digunakan dalam peperangan guna menghambat serangan musuh. Dan sesungguhnya kendala yang sering kita jumpai dikehidupan dunia ini tak lain merupakan Buah Karya kita sendiri.
Karenanya, dalam kesempatan kali ini, kita akan membicarakan secara sunguh-sungguh masalah sensitif dan teramat penting ini.
Walaupun kita tidak tahu, apakah hanya dengan satu pertemuan ini, kendala-kendala tersebut dapat teratasi, atau diperlukan beberapa pertemuan lain di kemudian hari.
Namun kita tetap harus mengungkit persoalan ini, sekalipun mengetahui bahwa persoalan tersebut tidak bisa dituntaskan hanya lewat satu kali pertemuan saja. Dan saya meyakini bahwa pembahasan kita kali ini tidak akan terlewatkan begitu saja tanpa meninggalkan hasil maupun kesimpulan bermanfaat, sesederhana apapun.
I. PEMILIHAN SERBA BERLEBIHAN
Terlalu selektif dan berlebehian dalam menentukan pasangan merupakan KENDALA PERTAMA yang merintangi seseorang dalam menapaki tangga pernikahan. Kendala seperti ini mudah dijumpai dalam keseharian hidup.
Hari demi hari, kebiasaan tersebut berkembang biak diatas tengah-tengah kehidupan masyarakat, laki-laki maupun wanita lajang, termasuk juga kaum IBU atau AYAH.
Akibatnya, banyak wanita yang telah berusia 30 tahun atau laki-laki yang sudah berumur 40 tahun belum juga menikah. Kalau ditanya, mengapa belum beristri atau belum bersuami?, Jawabnya mereka “ Belum Memperoleh Pasangan Hidup Yang Memenuhi Syarat .“
Satu hal yang harus kita perhatikan secara seksama adalah “ Bahwa Mustahil Seorang Wanita Akan Mendpatkan Seorang Suami Yang Sesuai Dengan Seleranya Secara 100% “
Dengan begitu, kendati sosok calon pasangannya itu hanya memenuhi 50% saja dari persyaratan yang diinginkannya, maka itu sudah lebih dari mencukupi. Apalagi kalau mencapai 70%, pasti si calon tersebut akan menjadi Isteri atau Suami yang Baik.
Kalangan Ulama ( Ruhaniyyin ) jelas akan memandang masalah seleksi ( Pemilihan ) ini dengan cara yang berbeda.
Seluruh rumah yang sesuai dengan keinginan belum tentu sanggup disediakan setiap menantu. Kecantikan 100% mustahil dimiliki setiap wanita. Sebuah pemilihan dengan STANDART TINGGI serta persyaratan yang sangat ideal mustahil dilakukan. Tak jarang terjadi seseorang rendah kepribadian serta nasabnya dalam penilaian ( orang lain ) memiliki keinginan yang terlampau tinggi dalam hal melamar. Inilah penyebab utama mengapa seorang laki-laki tak dapat beristeri atau perempuan tak dapat bersuami.
Umpama, seorang wanita berkacamata. Apabila ibi si laki-laki memiliki ideal bahwa menantunya tidak berkaca mata, tentu ia akan mentah-mentah menolak si wanita tersebut menjadi menantunya. Atau seorang laki-laki bertubuh pendek, yang ditolak calon mertua yang berkeinginan anak perempuannya bersuamikan lelaki bertubuh tinggi.
Tak bisa dipungkiri bahwa dalam kenyataan banyak kita jumpai wanita yang berusia 20 tahunan yang sudah diminta seseorang ( untuk jadi isterinya ), batal menikah hanya lantaran SELEKSI dan KENDALA REMEH.
Mungkin juga di dalam majelis kita ini, ada seorang lelaki yang sudah berusia 20, 30, atau 40 tahun dan telah berusaha mencari isteri namun tak kunjung diperoleh. Padahal bibinya, tetangganya, atau yang lain memiliki seorang anak perempuan!
Namun lantaran dianggap memiliki kekurangan ( oleh mereka yang memiliki anak perempuan ), para bujang itupun diabaikan begitu saja. Pemilihan serba berlebihan seperti itu tentu akan berdampak buruk, baik terhadap diri si Lelaki maupun terhadap jiwa si Perempuan.
Dari atas mimbar, Rasulullah SAW bersabda ;
“ Wahai umatku, jika anak perempuanmu telah sampai pada usia pernikahan, maka nikahkanlah. Karena wanita yang telah sampai pada usia pernikahan laksana buah yang telah matang diatas pohon. Jika buah tersebut tidak dipetik, maka ia akan membusuk.”
Apabila telah mencapai usia pernikahan namun tidak disediakan baginya suami, seorang anak perempuan niscaya akan rusak. Ini juga berlaku buat si laki-laki. Seorang lelaki yang sudah mencapai usia pernikahan dan sanggup beristeri, harus segera menikah. Bila tidak, ia tak ubahnya buah ranum yang dibiarkan begitu saja sampai membusuk dan gugur sehingga tak lagi bisa dinikmati.
Sebagian orang kemudian mengutarakan masalah pemilihan ini terhadap Rasulullah SAW. Mereka bertanya, “ Wahai Rasulullah, kepada siapa kami harus menyerahkan anak perempuan kami ?” Beliau Menjawab; “ Kepada kufu’ baginya, kepada yang cocok baginya, maka mereka boleh melakukan seleksi.”
Mereka Bertanya, “ Wahai Rasulullah, Kufu’ kepada siapa?” Berualang kali Rasulullah SAW menyabdakan “ Orang-orang Mukmin yang satu kufu’ dengan yang lain.”
Mukmin adalah orang yang berakhlak baik dan senantiasa menjalankan perintah agama dengan baik. Mereka ini kufu’ dengan anda. Kalau salah seorang diantara mereka mendatangi Anda, berikanlah anak perempuan Anda kepadanya. Sebagaimana yang acapkali disampaikan oleh Rasulullah SAW, sebuah tragedi besar akan terjadi dalam masyarakat Islam.
“ Apabila datang kepadamu orang yang engkau ridha terhadap akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah ia. Apabila engkau tidak melakukan akan terjadi fitnah yang besar di muka bumi dan kerusakan yang besar.”
Apabila telah ditemukan seorang calon suami berakhlak dan beragama baik, berikanlah anak perempuan Anda kepadanya; jadikanlah anak perempuan Anda istri baginya. Bila pernikahan tidak berlandaskan Agama dan Akhlak, niscaya akan terjadi Fitnah dan kerusakan dalam tubuh masyarakat Islam.
Kerusakan dan Fitnah yang kita saksikan sekarang ini tak lain dari puncak perihidup masyarakat Islam Sendiri. Apakah itu...? Rasulullah SAW bersabda;” Perhatikanlah..! Adakah ia berakhlak baik atau tidak? Adakah ia melaksanakan Perintah Agama dengan baik atau Tidak?”
Saya tidak ragu menyatakan bahwa wanita yang hadir di majlis ini, kalau diminta melamarkan untuk anak laki-lakinya, akan berpikir, “ Adakah perempuan yang saya lamar ini Hasad ( Dengki ), Sombong, Egois, atau Tidak ?”
Sayapun tidak ragu menyatakan bahwa Anda yang hadir di majlis ini pasti akan mempertanyakan apakah laki-laki ini beragama dengan baik atau tidak, berakhlak baik atau tidak.
Kebetulan, Riwayat dan pengalaman menyatakan bahwa kalau orientasi mereka hanya berkisar pada masalah: Harta, Kecantikan Fisik, Hisab, Nasab ( Bibit-Bobot-Bebet ), maka yang akan diperoleh tak lebih dari KEKECEWAAN BELAKA.
Rasulullah SAW mengatakan bahwa “ Apabila manusia Mengejar Harta maka Harta akan Hilang, Mengejar Posisi saja maka posisi akan hilang, mengejar Kecantikan saja maka kecantikan akan pudar. Dirinya tak akan memperoleh apapun kecuali NAFSU dan SYAHWATNYA Semata.”
Kecantikan bakal mengendur, Harta akan berkurang, Derajat dan kedudukan juga akan menurun. Penurunan inilah yang kemudian dapat mengakibatkan terjadinya pertengkaran dan Kesukaran Hidup.
Imam Shadiq berkata ; “Berikanlah anak Perempuanmu kepada orang yang Beragama. Karena, bila ia menyenanginya, cintanya tersebut akan menjadikan pengabdian kepadanya. Dan apabila ia tidak menyukainya maka agamanya tidak akan membiarkan ia mendzaliliminya.”
Betapa agung riwayat dari Imama Ja’far Shadiq ini. Saya benar-benar yakin bahwa para hadirin majlis ini tidak dan tidak akan pernah menerapkan seleksi ketat dalam hal pernikahan lantaran Rasulullah SAW Menolak Perbuatan Yang Demikian.
Pada zaman Rasulullah SAW terjadi sejumlah pernikahan menakjubkan yang mematahkan kebiasaan ketat dalam pemilihan ( seleksi ).
Kasus Juwaibir, Zaid, dan Miqdad merupakan sedikit diantaranya. Mereka tidak memiliki apapun kecuali KETAQWAAN untuk menghidupkan Akhlak dan Agama di tengah-tengah masyarakat, menikahi perempuan cantik, berstatus sosial tinggi, dan berasal dari keturunan terhormat!
Karena itu, kita dapat mengatakan bahwa standart pernikahan tak lain dari Akhlak dan Agama, bukan yang lain. Namun, ini bukan berarti saya menganjurkan untuk tidak mencari pertimbangan lain. Yang saya anjurkan hanyalah mengutamakan AGAMA dan AKHLAK diatas segala-galanya. Kalau seorang wanita pilihan telah memenuhi kecocokan sebesar 80% saja, saya pikir kita tak perrlu lagi menimbang-nimbang apakah ia pantas dijadikan istri.
Bila seorang laki-laki telah memenuhi 80 %, atau bahkan hanya 70 %, dari persyaratan, janganlah diseleksi Lagi. ISTIKHARAH ( Memilih kebaikan dengan amalan tertentu) dalam persoalan ini juga tidak diperlukan. Dalam kasus ini, bukan tempat dan waktu yang tepat bagi kita untuk ber Istikharah.
Biasanya, Istikharah daliakukan dalam pelbagai permasalahan yang sangat genting dan berjalan buntu. Ketika manusia tak sanggup lagi berpikir dan musyawarah juga tak menghasilkan sesuatupun; ketika persoalan yang dihadapi menjadi begitu kabur dan gelap; maka inilah saatnya berIstikharah.
Namun, kalau maslahnya begitu gamblang, gunakanlah akal Anda secara maksimal. Perhatikanlah, paada saat anak laki-laki Anda sudah siap dari segi Agama dan Akhlak, serta mampu untuk beristri, maka istikharah sudah tidak lagi diperlukan. Atau, ketika Anda memperhatikan anak perempuan Anda Mutadayyin ( Beragama dengan baik ), melaksanakan kewajiban Agamanya dengan baik, akhlaknya pun baik, dan siap bersuami, maka istikharah tidak lagi dibutuhkan.
Bersambung...........
Pembahasan kita kali ini berkisar pada sejumlah kendala yang menghalangi terjadinya Pernikahan. Adapaun kendala-kendala dimaksud antara lain sebagi berikut : PEMILIHAN SERBA BERLEBIHAN
PENGELUARAN YANG BUKAN PADA TEMPATNYA.
MAHAR YANG MEMBERATKAN
WALIMAH ( RESEPSI ) TANPA PERHITUNGAN.
PERLENGKAPAN YANG MEMBEBANI.
RUMAH TINGGAL
SALING CURIGA DAN BUDAYA PAMER DIRI.
KEBAKHILAN.
Kendala-kendala tersebut ibarat barikade pasir yang biasa digunakan dalam peperangan guna menghambat serangan musuh. Dan sesungguhnya kendala yang sering kita jumpai dikehidupan dunia ini tak lain merupakan Buah Karya kita sendiri.
Karenanya, dalam kesempatan kali ini, kita akan membicarakan secara sunguh-sungguh masalah sensitif dan teramat penting ini.
Walaupun kita tidak tahu, apakah hanya dengan satu pertemuan ini, kendala-kendala tersebut dapat teratasi, atau diperlukan beberapa pertemuan lain di kemudian hari.
Namun kita tetap harus mengungkit persoalan ini, sekalipun mengetahui bahwa persoalan tersebut tidak bisa dituntaskan hanya lewat satu kali pertemuan saja. Dan saya meyakini bahwa pembahasan kita kali ini tidak akan terlewatkan begitu saja tanpa meninggalkan hasil maupun kesimpulan bermanfaat, sesederhana apapun.
I. PEMILIHAN SERBA BERLEBIHAN
Terlalu selektif dan berlebehian dalam menentukan pasangan merupakan KENDALA PERTAMA yang merintangi seseorang dalam menapaki tangga pernikahan. Kendala seperti ini mudah dijumpai dalam keseharian hidup.
Hari demi hari, kebiasaan tersebut berkembang biak diatas tengah-tengah kehidupan masyarakat, laki-laki maupun wanita lajang, termasuk juga kaum IBU atau AYAH.
Akibatnya, banyak wanita yang telah berusia 30 tahun atau laki-laki yang sudah berumur 40 tahun belum juga menikah. Kalau ditanya, mengapa belum beristri atau belum bersuami?, Jawabnya mereka “ Belum Memperoleh Pasangan Hidup Yang Memenuhi Syarat .“
Satu hal yang harus kita perhatikan secara seksama adalah “ Bahwa Mustahil Seorang Wanita Akan Mendpatkan Seorang Suami Yang Sesuai Dengan Seleranya Secara 100% “
Dengan begitu, kendati sosok calon pasangannya itu hanya memenuhi 50% saja dari persyaratan yang diinginkannya, maka itu sudah lebih dari mencukupi. Apalagi kalau mencapai 70%, pasti si calon tersebut akan menjadi Isteri atau Suami yang Baik.
Kalangan Ulama ( Ruhaniyyin ) jelas akan memandang masalah seleksi ( Pemilihan ) ini dengan cara yang berbeda.
Seluruh rumah yang sesuai dengan keinginan belum tentu sanggup disediakan setiap menantu. Kecantikan 100% mustahil dimiliki setiap wanita. Sebuah pemilihan dengan STANDART TINGGI serta persyaratan yang sangat ideal mustahil dilakukan. Tak jarang terjadi seseorang rendah kepribadian serta nasabnya dalam penilaian ( orang lain ) memiliki keinginan yang terlampau tinggi dalam hal melamar. Inilah penyebab utama mengapa seorang laki-laki tak dapat beristeri atau perempuan tak dapat bersuami.
Umpama, seorang wanita berkacamata. Apabila ibi si laki-laki memiliki ideal bahwa menantunya tidak berkaca mata, tentu ia akan mentah-mentah menolak si wanita tersebut menjadi menantunya. Atau seorang laki-laki bertubuh pendek, yang ditolak calon mertua yang berkeinginan anak perempuannya bersuamikan lelaki bertubuh tinggi.
Tak bisa dipungkiri bahwa dalam kenyataan banyak kita jumpai wanita yang berusia 20 tahunan yang sudah diminta seseorang ( untuk jadi isterinya ), batal menikah hanya lantaran SELEKSI dan KENDALA REMEH.
Mungkin juga di dalam majelis kita ini, ada seorang lelaki yang sudah berusia 20, 30, atau 40 tahun dan telah berusaha mencari isteri namun tak kunjung diperoleh. Padahal bibinya, tetangganya, atau yang lain memiliki seorang anak perempuan!
Namun lantaran dianggap memiliki kekurangan ( oleh mereka yang memiliki anak perempuan ), para bujang itupun diabaikan begitu saja. Pemilihan serba berlebihan seperti itu tentu akan berdampak buruk, baik terhadap diri si Lelaki maupun terhadap jiwa si Perempuan.
Dari atas mimbar, Rasulullah SAW bersabda ;
“ Wahai umatku, jika anak perempuanmu telah sampai pada usia pernikahan, maka nikahkanlah. Karena wanita yang telah sampai pada usia pernikahan laksana buah yang telah matang diatas pohon. Jika buah tersebut tidak dipetik, maka ia akan membusuk.”
Apabila telah mencapai usia pernikahan namun tidak disediakan baginya suami, seorang anak perempuan niscaya akan rusak. Ini juga berlaku buat si laki-laki. Seorang lelaki yang sudah mencapai usia pernikahan dan sanggup beristeri, harus segera menikah. Bila tidak, ia tak ubahnya buah ranum yang dibiarkan begitu saja sampai membusuk dan gugur sehingga tak lagi bisa dinikmati.
Sebagian orang kemudian mengutarakan masalah pemilihan ini terhadap Rasulullah SAW. Mereka bertanya, “ Wahai Rasulullah, kepada siapa kami harus menyerahkan anak perempuan kami ?” Beliau Menjawab; “ Kepada kufu’ baginya, kepada yang cocok baginya, maka mereka boleh melakukan seleksi.”
Mereka Bertanya, “ Wahai Rasulullah, Kufu’ kepada siapa?” Berualang kali Rasulullah SAW menyabdakan “ Orang-orang Mukmin yang satu kufu’ dengan yang lain.”
Mukmin adalah orang yang berakhlak baik dan senantiasa menjalankan perintah agama dengan baik. Mereka ini kufu’ dengan anda. Kalau salah seorang diantara mereka mendatangi Anda, berikanlah anak perempuan Anda kepadanya. Sebagaimana yang acapkali disampaikan oleh Rasulullah SAW, sebuah tragedi besar akan terjadi dalam masyarakat Islam.
“ Apabila datang kepadamu orang yang engkau ridha terhadap akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah ia. Apabila engkau tidak melakukan akan terjadi fitnah yang besar di muka bumi dan kerusakan yang besar.”
Apabila telah ditemukan seorang calon suami berakhlak dan beragama baik, berikanlah anak perempuan Anda kepadanya; jadikanlah anak perempuan Anda istri baginya. Bila pernikahan tidak berlandaskan Agama dan Akhlak, niscaya akan terjadi Fitnah dan kerusakan dalam tubuh masyarakat Islam.
Kerusakan dan Fitnah yang kita saksikan sekarang ini tak lain dari puncak perihidup masyarakat Islam Sendiri. Apakah itu...? Rasulullah SAW bersabda;” Perhatikanlah..! Adakah ia berakhlak baik atau tidak? Adakah ia melaksanakan Perintah Agama dengan baik atau Tidak?”
Saya tidak ragu menyatakan bahwa wanita yang hadir di majlis ini, kalau diminta melamarkan untuk anak laki-lakinya, akan berpikir, “ Adakah perempuan yang saya lamar ini Hasad ( Dengki ), Sombong, Egois, atau Tidak ?”
Sayapun tidak ragu menyatakan bahwa Anda yang hadir di majlis ini pasti akan mempertanyakan apakah laki-laki ini beragama dengan baik atau tidak, berakhlak baik atau tidak.
Kebetulan, Riwayat dan pengalaman menyatakan bahwa kalau orientasi mereka hanya berkisar pada masalah: Harta, Kecantikan Fisik, Hisab, Nasab ( Bibit-Bobot-Bebet ), maka yang akan diperoleh tak lebih dari KEKECEWAAN BELAKA.
Rasulullah SAW mengatakan bahwa “ Apabila manusia Mengejar Harta maka Harta akan Hilang, Mengejar Posisi saja maka posisi akan hilang, mengejar Kecantikan saja maka kecantikan akan pudar. Dirinya tak akan memperoleh apapun kecuali NAFSU dan SYAHWATNYA Semata.”
Kecantikan bakal mengendur, Harta akan berkurang, Derajat dan kedudukan juga akan menurun. Penurunan inilah yang kemudian dapat mengakibatkan terjadinya pertengkaran dan Kesukaran Hidup.
Imam Shadiq berkata ; “Berikanlah anak Perempuanmu kepada orang yang Beragama. Karena, bila ia menyenanginya, cintanya tersebut akan menjadikan pengabdian kepadanya. Dan apabila ia tidak menyukainya maka agamanya tidak akan membiarkan ia mendzaliliminya.”
Betapa agung riwayat dari Imama Ja’far Shadiq ini. Saya benar-benar yakin bahwa para hadirin majlis ini tidak dan tidak akan pernah menerapkan seleksi ketat dalam hal pernikahan lantaran Rasulullah SAW Menolak Perbuatan Yang Demikian.
Pada zaman Rasulullah SAW terjadi sejumlah pernikahan menakjubkan yang mematahkan kebiasaan ketat dalam pemilihan ( seleksi ).
Kasus Juwaibir, Zaid, dan Miqdad merupakan sedikit diantaranya. Mereka tidak memiliki apapun kecuali KETAQWAAN untuk menghidupkan Akhlak dan Agama di tengah-tengah masyarakat, menikahi perempuan cantik, berstatus sosial tinggi, dan berasal dari keturunan terhormat!
Karena itu, kita dapat mengatakan bahwa standart pernikahan tak lain dari Akhlak dan Agama, bukan yang lain. Namun, ini bukan berarti saya menganjurkan untuk tidak mencari pertimbangan lain. Yang saya anjurkan hanyalah mengutamakan AGAMA dan AKHLAK diatas segala-galanya. Kalau seorang wanita pilihan telah memenuhi kecocokan sebesar 80% saja, saya pikir kita tak perrlu lagi menimbang-nimbang apakah ia pantas dijadikan istri.
Bila seorang laki-laki telah memenuhi 80 %, atau bahkan hanya 70 %, dari persyaratan, janganlah diseleksi Lagi. ISTIKHARAH ( Memilih kebaikan dengan amalan tertentu) dalam persoalan ini juga tidak diperlukan. Dalam kasus ini, bukan tempat dan waktu yang tepat bagi kita untuk ber Istikharah.
Biasanya, Istikharah daliakukan dalam pelbagai permasalahan yang sangat genting dan berjalan buntu. Ketika manusia tak sanggup lagi berpikir dan musyawarah juga tak menghasilkan sesuatupun; ketika persoalan yang dihadapi menjadi begitu kabur dan gelap; maka inilah saatnya berIstikharah.
Namun, kalau maslahnya begitu gamblang, gunakanlah akal Anda secara maksimal. Perhatikanlah, paada saat anak laki-laki Anda sudah siap dari segi Agama dan Akhlak, serta mampu untuk beristri, maka istikharah sudah tidak lagi diperlukan. Atau, ketika Anda memperhatikan anak perempuan Anda Mutadayyin ( Beragama dengan baik ), melaksanakan kewajiban Agamanya dengan baik, akhlaknya pun baik, dan siap bersuami, maka istikharah tidak lagi dibutuhkan.
Bersambung...........
Langganan:
Postingan (Atom)
