KERJA KERAS BEBAS CEMAS ; PASTI AMAN-PASTI CAIR-PASTI TENANG

KERJA KERAS BEBAS CEMAS ; PASTI AMAN-PASTI CAIR-PASTI TENANG
APAPUN PEKERJAAN ANDA Lindungi diri Anda mulai Sekarang dari Resiko Kerja Anda, REJEKI dapat di Cari Kematian tak bisa kita Hindari

Sabtu, 24 Desember 2016

KENDALA PERNIKAHAN

KENDALA PERNIKAHAN

Pembahasan kita kali ini berkisar pada sejumlah kendala yang menghalangi terjadinya Pernikahan. Adapaun kendala-kendala dimaksud antara lain sebagi berikut :




PEMILIHAN SERBA BERLEBIHAN
PENGELUARAN YANG BUKAN PADA TEMPATNYA.
MAHAR YANG MEMBERATKAN
WALIMAH ( RESEPSI ) TANPA PERHITUNGAN.
PERLENGKAPAN YANG MEMBEBANI.
RUMAH TINGGAL
SALING CURIGA DAN BUDAYA PAMER DIRI.
KEBAKHILAN.

Kendala-kendala tersebut ibarat barikade pasir yang biasa digunakan dalam peperangan guna menghambat serangan musuh. Dan sesungguhnya kendala yang sering kita jumpai dikehidupan dunia ini tak lain merupakan Buah Karya kita sendiri.
Karenanya, dalam kesempatan kali ini, kita akan membicarakan secara sunguh-sungguh masalah sensitif dan teramat penting ini. 
Walaupun kita tidak tahu, apakah hanya dengan satu pertemuan ini, kendala-kendala tersebut dapat teratasi, atau diperlukan beberapa pertemuan lain di kemudian hari.
Namun kita tetap harus mengungkit persoalan ini, sekalipun mengetahui bahwa persoalan tersebut tidak bisa dituntaskan hanya lewat satu kali pertemuan saja. Dan saya meyakini bahwa pembahasan kita kali ini tidak akan terlewatkan begitu saja tanpa meninggalkan hasil maupun kesimpulan bermanfaat, sesederhana apapun.

I. PEMILIHAN SERBA BERLEBIHAN

Terlalu selektif dan berlebehian dalam menentukan pasangan merupakan KENDALA PERTAMA yang merintangi seseorang dalam menapaki tangga pernikahan. Kendala seperti ini mudah dijumpai dalam keseharian hidup.
Hari demi hari, kebiasaan tersebut berkembang biak diatas tengah-tengah kehidupan masyarakat, laki-laki maupun wanita lajang, termasuk juga kaum IBU atau AYAH.
Akibatnya, banyak wanita yang telah berusia 30 tahun atau laki-laki yang sudah berumur 40 tahun belum juga menikah. Kalau ditanya, mengapa belum beristri atau belum bersuami?, Jawabnya mereka “ Belum Memperoleh Pasangan Hidup Yang Memenuhi Syarat .“ 
Satu hal yang harus kita perhatikan secara seksama adalah “ Bahwa Mustahil Seorang Wanita Akan Mendpatkan Seorang Suami Yang Sesuai Dengan Seleranya Secara 100% “
Dengan begitu, kendati sosok calon pasangannya itu hanya memenuhi 50% saja dari persyaratan yang diinginkannya, maka itu sudah lebih dari mencukupi. Apalagi kalau mencapai 70%, pasti si calon tersebut akan menjadi Isteri atau Suami yang Baik.
Kalangan Ulama ( Ruhaniyyin ) jelas akan memandang masalah seleksi ( Pemilihan ) ini dengan cara yang berbeda.
Seluruh rumah yang sesuai dengan keinginan belum tentu sanggup disediakan setiap menantu. Kecantikan 100% mustahil dimiliki setiap wanita. Sebuah pemilihan dengan STANDART TINGGI serta persyaratan yang sangat ideal mustahil dilakukan. Tak jarang terjadi seseorang rendah kepribadian serta nasabnya dalam penilaian ( orang lain ) memiliki keinginan yang terlampau tinggi dalam hal melamar. Inilah penyebab utama mengapa seorang laki-laki tak dapat beristeri atau perempuan tak dapat bersuami.
Umpama, seorang wanita berkacamata. Apabila ibi si laki-laki memiliki ideal bahwa menantunya tidak berkaca mata, tentu ia akan mentah-mentah menolak si wanita tersebut menjadi menantunya. Atau seorang laki-laki bertubuh pendek, yang ditolak calon mertua yang berkeinginan anak perempuannya bersuamikan lelaki bertubuh tinggi.
Tak bisa dipungkiri bahwa dalam kenyataan banyak kita jumpai wanita yang berusia 20 tahunan yang sudah diminta seseorang ( untuk jadi isterinya ), batal menikah hanya lantaran SELEKSI dan KENDALA REMEH.
Mungkin juga di dalam majelis kita ini, ada seorang lelaki yang sudah berusia 20, 30, atau 40 tahun dan telah berusaha mencari isteri namun tak kunjung diperoleh. Padahal bibinya, tetangganya, atau yang lain memiliki seorang anak perempuan!
Namun lantaran dianggap memiliki kekurangan ( oleh mereka yang memiliki anak perempuan ), para bujang itupun diabaikan begitu saja. Pemilihan serba berlebihan seperti itu tentu akan berdampak buruk, baik terhadap diri si Lelaki maupun terhadap jiwa si Perempuan.

Dari atas mimbar, Rasulullah SAW bersabda ;
“ Wahai umatku, jika anak perempuanmu telah sampai pada usia pernikahan, maka nikahkanlah. Karena wanita yang telah sampai pada usia pernikahan laksana buah yang telah matang diatas pohon. Jika buah tersebut tidak dipetik, maka ia akan membusuk.” 

Apabila telah mencapai usia pernikahan namun tidak disediakan baginya suami, seorang anak perempuan niscaya akan rusak. Ini juga berlaku buat si laki-laki. Seorang lelaki yang sudah mencapai usia pernikahan dan sanggup beristeri, harus segera menikah. Bila tidak, ia tak ubahnya buah ranum yang dibiarkan begitu saja sampai membusuk dan gugur sehingga tak lagi bisa dinikmati.
Sebagian orang kemudian mengutarakan masalah pemilihan ini terhadap Rasulullah SAW. Mereka bertanya, “ Wahai Rasulullah, kepada siapa kami harus menyerahkan anak perempuan kami ?” Beliau Menjawab; “ Kepada kufu’ baginya, kepada yang cocok baginya, maka mereka boleh melakukan seleksi.”
Mereka Bertanya, “ Wahai Rasulullah, Kufu’ kepada siapa?” Berualang kali Rasulullah SAW menyabdakan “ Orang-orang Mukmin yang satu kufu’ dengan yang lain.” 
Mukmin adalah orang yang berakhlak baik dan senantiasa menjalankan perintah agama dengan baik. Mereka ini kufu’ dengan anda. Kalau salah seorang diantara mereka mendatangi Anda, berikanlah anak perempuan Anda kepadanya. Sebagaimana yang acapkali disampaikan oleh Rasulullah SAW, sebuah tragedi besar akan terjadi dalam masyarakat Islam.
“ Apabila datang kepadamu orang yang engkau ridha terhadap akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah ia. Apabila engkau tidak melakukan akan terjadi fitnah yang besar di muka bumi dan kerusakan yang besar.”
Apabila telah ditemukan seorang calon suami berakhlak dan beragama baik, berikanlah anak perempuan Anda kepadanya; jadikanlah anak perempuan Anda istri baginya. Bila pernikahan tidak berlandaskan Agama dan Akhlak, niscaya akan terjadi Fitnah dan kerusakan dalam tubuh masyarakat Islam.
Kerusakan dan Fitnah yang kita saksikan sekarang ini tak lain dari puncak perihidup masyarakat Islam Sendiri. Apakah itu...? Rasulullah SAW bersabda;” Perhatikanlah..! Adakah ia berakhlak baik atau tidak? Adakah ia melaksanakan Perintah Agama dengan baik atau Tidak?”
Saya tidak ragu menyatakan bahwa wanita yang hadir di majlis ini, kalau diminta melamarkan untuk anak laki-lakinya, akan berpikir, “ Adakah perempuan yang saya lamar ini Hasad ( Dengki ), Sombong, Egois, atau Tidak ?”
Sayapun tidak ragu menyatakan bahwa Anda yang hadir di majlis ini pasti akan mempertanyakan apakah laki-laki ini beragama dengan baik atau tidak, berakhlak baik atau tidak.
Kebetulan, Riwayat dan pengalaman menyatakan bahwa kalau orientasi mereka hanya berkisar pada masalah: Harta, Kecantikan Fisik, Hisab, Nasab ( Bibit-Bobot-Bebet ), maka yang akan diperoleh tak lebih dari KEKECEWAAN BELAKA.
Rasulullah SAW mengatakan bahwa “ Apabila manusia Mengejar Harta maka Harta akan Hilang, Mengejar Posisi saja maka posisi akan hilang, mengejar Kecantikan saja maka kecantikan akan pudar. Dirinya tak akan memperoleh apapun kecuali NAFSU dan SYAHWATNYA Semata.”
Kecantikan bakal mengendur, Harta akan berkurang, Derajat dan kedudukan juga akan menurun. Penurunan inilah yang kemudian dapat mengakibatkan terjadinya pertengkaran dan Kesukaran Hidup.
Imam Shadiq berkata ; “Berikanlah anak Perempuanmu kepada orang yang Beragama. Karena, bila ia menyenanginya, cintanya tersebut akan menjadikan pengabdian kepadanya. Dan apabila ia tidak menyukainya maka agamanya tidak akan membiarkan ia mendzaliliminya.”
Betapa agung riwayat dari Imama Ja’far Shadiq ini. Saya benar-benar yakin bahwa para hadirin majlis ini tidak dan tidak akan pernah menerapkan seleksi ketat dalam hal pernikahan lantaran Rasulullah SAW Menolak Perbuatan Yang Demikian.
Pada zaman Rasulullah SAW terjadi sejumlah pernikahan menakjubkan yang mematahkan kebiasaan ketat dalam pemilihan ( seleksi ). 
Kasus Juwaibir, Zaid, dan Miqdad merupakan sedikit diantaranya. Mereka tidak memiliki apapun kecuali KETAQWAAN untuk menghidupkan Akhlak dan Agama di tengah-tengah masyarakat, menikahi perempuan cantik, berstatus sosial tinggi, dan berasal dari keturunan terhormat!
Karena itu, kita dapat mengatakan bahwa standart pernikahan tak lain dari Akhlak dan Agama, bukan yang lain. Namun, ini bukan berarti saya menganjurkan untuk tidak mencari pertimbangan lain. Yang saya anjurkan hanyalah mengutamakan AGAMA dan AKHLAK diatas segala-galanya. Kalau seorang wanita pilihan telah memenuhi kecocokan sebesar 80% saja, saya pikir kita tak perrlu lagi menimbang-nimbang apakah ia pantas dijadikan istri. 
Bila seorang laki-laki telah memenuhi 80 %, atau bahkan hanya 70 %, dari persyaratan, janganlah diseleksi Lagi. ISTIKHARAH ( Memilih kebaikan dengan amalan tertentu) dalam persoalan ini juga tidak diperlukan. Dalam kasus ini, bukan tempat dan waktu yang tepat bagi kita untuk ber Istikharah.
Biasanya, Istikharah daliakukan dalam pelbagai permasalahan yang  sangat genting dan berjalan buntu. Ketika manusia tak sanggup lagi berpikir dan musyawarah juga tak menghasilkan sesuatupun; ketika persoalan yang dihadapi menjadi begitu kabur dan gelap; maka inilah saatnya berIstikharah.
Namun, kalau maslahnya begitu gamblang, gunakanlah akal Anda secara maksimal. Perhatikanlah, paada saat anak laki-laki Anda sudah siap dari segi Agama dan Akhlak, serta mampu untuk beristri, maka istikharah sudah tidak lagi diperlukan. Atau, ketika Anda memperhatikan anak perempuan Anda Mutadayyin ( Beragama dengan baik ), melaksanakan kewajiban Agamanya dengan baik, akhlaknya pun baik, dan siap bersuami, maka istikharah tidak lagi dibutuhkan.

Bersambung...........

Kamis, 22 Desember 2016

BLORA DAHOELOE PERNAH DIPIMPIN SEORANG BOEPATI PEREMPOEAN.

BLORA DAHOELOE PERNAH DIPIMPIN SEORANG BOEPATI PEREMPOEAN.
*
Pada tahun 1762 Blora dipimpin oleh dua orang Bupati dengan pembagian wilayah Blora Wetan dipimpin oleh RT. Djajeng Tirtonoto (1762-1782), sedangkan Blora Barat dipimpin oleh RT. Wilotikto (1762-1763). Satu tahun setelah diangkat menjadi bupati untuk yang kedua kalinya RT. Wilotikto wafat karena sakit sudah sepuh. Karena beliau tidak mempunyai putra, putra beliau meninggal muda maka jabatan bupati selanjutnya digantikan oleh istri beliau yaitu R.Aj. Wilotikto dengan sebutan Tumenggung Rondo, jadi yang memerintah Blora dapur kaputungan watang (kakak beradik). Pada tahun antara 1767-1768 oleh Susuhunan kaping III dan Gubernur Jendral Van der Parra kekuasaan Blora Timur dan Blora Barat diserahkan kepada RT. Djajeng Tirtonoto. Sejak saat itu Blora dipimpin satu orang Bupati yaitu RT. Djajeng Tirtonoto.
*
Nama-nama bupati Blora dari tahun 1949 - sampai sekarang
*
*. RT. Wilotikto 1749-1755 dan 1762-1763 (Bupati Blora kilen...satu tahun setelah memerintah meninggal dunia dan digantikan istrinya)
*
*. RAj. Wilotikto (Tumenggung Rondo) - 1763-1767. Kemudian Blora Kilen dan Blora Wetan disatukan sekitar tahun 1767-1768
*
*. RT. Djajeng Tirtonoto 1762 - 1782
*
*. RT. Tirto Koesoemo 1782 - 1809
*
*. RT. Arjo Mertonegoro 1809 - 1812
*
*. RT. Prawirojoedo 1812 - 1823
*
*. RT. Tirtonagoro 1823 -1842
*
*. RT. Tjokronegoro I 1842 - 6 bulan
*
*. RT. Tirtonagoro 1843 - 1847
*
*. RT. Pandji Notowidjojo 1847 - 1857
*
*. RMAA. Tjokronegoro II 1857 - 1885
*
*.


                            RMAA. Tjokronegoro III 1886 - 1912
*
*. RMAA. Said Abd. Kadir Djaelani 1913 - 1926
*
*. RMAA. Tjakraningrat 1926 -1939
*
*. R. Moerjono Djojodigdo 1940 - 1942
*
*. RM. Soedjono 1942 -1945
*
*. Mr. Iskandar 1945 - 1948
*
*. R. Wibisono 1948 - 1949
*
*. R. Siswadi Djojosoerono 1950 - 1952 
*
*. R. Soedjono 1952 - 1957
*
*. R. Soenartio 1957 - 1960
*
*. R. Soekirno Djojosoerono 1960 - 1966
*
*. Srinardi 1966 - 1973
*
*. Soepadi Judhodarmo 1973 -1979
*
*. H. Soemarno SH 1979 - 1989
*
*. H. Soekardi Hardjoprawiro, MBA.MM 1989 - 1999
*
*. Ir. Basuki Widodo 2000 - 2005
*
*. Ir. Basuki Widodo 2005 - 2007
*
*. Drs. RM. Yudhi Sancoyo. MM 2007 - 2010
*
*. Letkol Inf (Purn) Djoko Nugroho 2010 - 2015
*
*. Letkol Inf (Purn) Djoko Nugroho 2015 - ......



Nara Sumber Siintha.Cokronegoro 

( Buyut Dalem Ndoro Sumo )

PADMAJAYA ( MEMBUKA HATI )

Hati adalah :
- Kunci hubungan kepada Tuhan YME
- Pusat ketenangan
- Pusat kedamaian
- Pusat kebahagiaan sejati
- Kunci kesehatan fisik, mental dan emosional
- Kunci kemajuan spiritual dalam hal ini spiritual= pendekatan diri kepada Tuhan YME dengan membuka hati dan pasrah kepadaNya dalam hidup sehari-hari
spirit = diri sejati yang berada di dalam hati
spiritual = mengandalkan hati & berkat Tuhan YME
Dengan Hati yang terbuka kepada Tuhan YME maka :
- kita menjadi lebih dekat kepada Tuhan YME
- Berdoa kepada Tuhan dari hati
- Melakukan perbuatan baik kepada sesama dengan kasih
- Mensyukuri berkat Tuhan lebih baik
- Lebih pasrah
- Jauh dari stress
- Ringan, tenang, damai dan bahagia
- Sehat secara mental, fisik dan emosional
- Mengenali kebenaran sejati

Hati itu apa ?
- Pusat perasaan karena diri sejati kita yang adalah dzat dari Sang Pencipta berada di dalam hati
- Kunci hubungan kepada Tuhan YME, karena keberadaan diri sejati yang adalah dzat Sang Pencipta didalam hati. Otak dan tubuh fisik hanyalah sesuatu yang bersifat sementara
- Pusat penerimaan berkat Tuhan YME
- Pusat ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan sejati yang berasal dari berkat Tuhan YME yang diterima oleh hati
Hati terletak pada rongga dada... di dalam rongga dada terdapat cakra jantung didalam cakra jantung terdapat hati didalam hati terdapat sir... di dalam sir terdapat hati nurani
Mengapa hati yang sedemikian penting tidak dipergunakan secara maksimal ??
- Pendidikan yang kita dapati selama ini lebih mengarahkan kita kepada pendidikan untuk otak (seperti pelajaran matematika, fisika, ilmu bumi dll)
- Dalam hidup sehari-hari, hampir setiap saat kita mempergunakan otak dan jarang sekali mempergunakan hati (itupun kalau ada)
- Setiap kali kita mempunyai emosi negatif seperti marah, sedih, takut, kecewa dan sebagainya kita mengotori hati kita
- Dengan semakin banyaknya kotoran yang menumpuk didalam hati, maka hati akan semakin tertutup
- Setiap kali kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati, maka hati akan menjadi semakin lemah

MENGENAL SOSOK SAMIN SUROSENTIKO

Ajaran Samin yang terkenal di wilayah Blora dan sekitarnya tidak lepas dari sosok Samin Surosentiko. Siapa Samin Surosentiko itu? Samin Surosentiko adalah putra dari Raden Surowijoyo yang juga disebut sebagai Samin Sepuh sebagai perintis gerakan Saminisme yang juga putra dari Pangeran Kusumaniayu (Bupati Sumoroto--kawasan di Kabupaten Tulungagung). 

Samin Surosentiko lahir pada 1859 dengan nama Raden Kohar di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung Kabupaten Blora. Raden Kohar mengubah namanya menjadi Samin Surosentiko sebab Samin adalah sebuah nama yang memiliki konotasi wong cilik. Samin Surosentiko juga masih mempunyai pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro.

Pada 1890 Samin Surosentiko mulai mengembangkan ajarannya di daerah Klopoduwur Blora Jawa Tengah. Banyak yang tertarik dan dalam waktu singkat sudah banyak orang menjadi pengikutnya. Saat itu pemerintah Kolonial Belanda menganggap sepi ajaran tersebut. Ajaran tersebut cuma dianggap sebagai ajaran kebatinan atau agama baru yang remeh belaka.

Pada 1903 Residen Rembang melaporkan terdapat 722 orang pengikut Samin yang tersebar di 34 desa di Blora bagian Selatan dan Bojonegoro. Mereka giat mengembangkan ajaran Samin. Pada 1907, pengikut Samin sudah berjumlah sekitar 5000 orang. Pemerintah Belanda mulai merasa was-was sehingga banyak pengikut Samin yang ditangkap dan dipenjarakan.

Pada 8 November 1907, Samin Surosentiko diangkat oleh pengikutnya sebagai Ratu Adil dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam. Kemudian 40 hari sesudah menjadi Ratu Adil itu, Samin Surosentiko ditangkap oleh asisten Wedana Randublatung, Raden Pranolo. Beserta delapan pengikutnya, Samin lalu dibuang ke luar Jawa (ke kota Padang, Sumatra Barat), dan meninggal di Padang pada 1914.

Tahun 1908, Penangkapan Samin Surosentiko tidak memadamkan gerakan Samin. Pada 1908, Wongsorejo, salah satu pengikut Samin, menyebarkan ajarannya di Madiun, mengajak orang-orang desa untuk tidak membayar pajak kepada pemerintah Belanda. Wongsorejo dengan sejumlah pengikutnya ditangkap dan dibuang keluar Jawa.

Pada 1911 Surohidin, menantu Samin Surosentiko dan Engkrak salah satu pengikutnya menyebarkan ajaran Samin di Grobogan. Karsiyah menyebarkan ajaran Samin di kawasan Kajen, Pati. Perkembangannya kemudian tidak jelas.

Tahun 1912, pengikut Samin mencoba menyebarkan ajarannya di daerah Jatirogo, Kabupaten Tuban, namun gagal.

Puncak penyebaran gerakan Samin terjadi pada 1914. Pemerintah Belanda menaikkan pajak. Disambut oleh para pengikut Samin dengan pembangkangan dan penolakan dengan cara-cara unik. Misalnya, dengan cara menunjukkan uang pada petugas pajak, "Iki duwite sopo?" (Ini uangnya siapa?), dan ketika sang petugas menjawab, "Yo duwitmu" (Ya uang kamu), maka pengikut Samin akan segera memasukkan uang itu ke sakunya sendiri. Singkat kata, orang-orang Samin misalnya di daerah Purwodadi dan di Balerejo, Madiun, sudah tidak lagi menghormati pamong Desa, polisi, dan aparat pemerintah Belanda yang lain.

Dalam masa itu, di Kajen Pati, Karsiyah tampil sebagai Pangeran Sendang Janur, mengimbau kepada masyarakat untuk tidak membayar pajak. Di Desa Larangan, Pati orang-orang Samin juga mengejek dan memandang para aparat desa dan polisi sebagai badut-badut belaka.

Di Desa Tapelan, Bojonegoro juga terjadi perlawanan terhadap pemerintah, dengan tidak mau membayar pajak. Karena itu, teror dan penangkapan makin gencar dilakukan pemerintah Belanda terhadap para pengikut Samin. Pada tahun 1914 ini akhirnya Samin meninggal dalam pengasingannya di Sumatra Barat. Namun teror terus dilanjutkan oleh pemerintah Belanda terhadap pengikut Samin. Akibat teror ini, sekitar tahun 1930-an, perlawanan gerakan Samin terhadap pemerintah kolonial menguap dan terhenti. Namun diluar dugaan tampaknya ajaran Samin tersebut tetap eksis hingga sekarang.

SUMBER : http://kawruh-kejawen.blogspot.com/

SEJARAH KAWITANE WONG JAWA LAN WONG KANUNG

Dening Mbah Guru
Kawetokake dening
Dewan Pengandhar Sabda Badra Santi
ing
Padhepokan Argasoka

——————————————————————————

Sagunging kahormatan
Nuwun

Purwaka

Buku sejarah punika nyatheti wiwit ing taun Masehi 1931, saking kepek cathetan tuwin pangandikanipun Eyang Buyut canggah guru desa, tuwin Eyang Pandhita Kanung ing Pareden Kendheng Ngargapura, Pomahan, Sukalila lan Prawata.

Piweling tuwin pamantos-wantosipun para swargi Eyang Panembahan Kanung punika: “Nggeeerr anak putuku.. Tak weling poma-poma aja nganti dilirwakake!!! Sejarahe canggah wareng leluhur Kanung iki aja nganti keprungu lan diweruhi dening wong sabrang ngatas angin Maghribi. Yen nganti keprojol, awake dhewe mesthi bakal cilaka lan bilahi; klakon dibuwang neng Sawahlunta. Emrehe disirik wong Mutihan wong Kutha.. Mbesok yen wong Kebo Bule wis mulih ning kandhange, crita sejarahe leluhur Kanung iki bakal dilari digoleki dening priyagung Jawa kang mamestri ngleluri kabudayan Jawa. Lhah ing kono anak putuku tedhake wong Kanung aja tidha-tidha supaya mangastuti medhar mbabar sejarahe luhure dhewe iki: Sura Dira Jaya-ning Rat bakal lebur dening Pangastuti!!!”

Mila ingkang mekaten punika sejarahipun leluhur Kanung punika selaminipun jaman penjajahan Landi tuwin Nippong sami sireb kependhem ing pranataning Panguwasa. Nembe jaman Kemerdekaan R.I. punika riwayatipun tiyang Kanung punika wiwit trubus muncul malih. Sanajana taksih wonten Priyantun ingkang ngencepi tuwin mitenah, ngendikanipun: “Tatacara Kuna-Endra wis kependhem wis ilang sirna, kok arep dithukulake maneh. Kolod Mbaahh, kolod. Wis ora njamani!!!”

Tumrap kita para sutresna sejarah leluhur Kanung tuwin ngrawat lan memundhi punden leluhur Kanung punika perlu nguri-uri memetri Seni-Budaya Jawi piwulangipun swargi leluhur canggah wareng; wonten bukti kubur patilasanipun nyangkleg wonten ing bumi papan panggenan kita, ing negari kita.

Wusana sampun kirang ing pamengku, Nuwun!!!

Katiti ing Padhepokan Argosoka, 28 Juni 1996.
Pambabar buku sejarah

ttd

Kacorek kaleresaken